Harga Batu Bara Tertekan Dua Hari Beruntun, Pasar Global Waspadai Dampak Kebijakan Indonesia Terbaru

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:31:24 WIB
Harga Batu Bara Tertekan Dua Hari Beruntun, Pasar Global Waspadai Dampak Kebijakan Indonesia Terbaru

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global kembali menjadi sorotan setelah tren pelemahan berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah kebijakan baru Indonesia yang berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan dunia.

Harga batu bara kembali melandai dalam dua hari beruntun. Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$115,1 per ton atau turun 0,71% pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026.

Harga batu bara sudah ambruk 2,04% dalam dua hari beruntun. Penurunan ini mencerminkan lemahnya sentimen pasar yang masih menunggu kepastian arah permintaan global.

Pergerakan harga tersebut juga dipengaruhi oleh dinamika pasar batu bara termal di China. Di negara tersebut, aktivitas perdagangan cenderung terbatas menjelang periode liburan dalam negeri.

Harga thermal coal di China bergerak terbatas menjelang periode liburan domestik, meskipun ada sedikit penguatan di beberapa titik tambang. Namun, pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk mengubah arah tren harga secara signifikan.

Faktor utama yang memengaruhi pasar saat ini adalah kombinasi permintaan konsumen yang moderat dan perubahan aktivitas produksi di tambang. Situasi ini membuat pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Beberapa produsen menaikkan penawaran harga, sementara banyak yang mempertahankan level harga sebelumnya, sehingga secara keseluruhan harga tetap pada kisaran yang sempit. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara ekspektasi produsen dan realisasi permintaan.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada pembelian kembali menjelang liburan di beberapa wilayah dan penurunan stok, permintaan akhir masih belum cukup kuat untuk mendorong tren kenaikan harga yang berkelanjutan. Hal ini membuat pasar batu bara termal berada dalam fase konsolidasi.

Ketidakpastian permintaan dan pengaruh periode liburan kemungkinan akan terus menjaga harga batu bara termal mine-mouth di rentang terbatas selama beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar pun masih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah pergerakan berikutnya.

Stabilitas Pasar China dan Dinamika Permintaan Regional

Di sisi lain, pasar metallurgical coke di China juga menunjukkan kondisi relatif stabil menjelang liburan Festival Musim Semi. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap datar.

Produsen tetap menjaga tingkat produksi yang relatif konsisten dan stok di tingkat rendah, sementara permintaan dari sektor baja juga bersifat moderat. Kombinasi ini membuat pergerakan harga met coke tidak banyak berubah dalam jangka pendek.

Tren ini diperkirakan tetap berlaku sampai pasar melewati periode liburan. Setelahnya, pasar baru akan menunjukkan arah pergerakan yang lebih jelas sesuai dengan aktivitas industri yang kembali normal.

Meski demikian, pelaku industri tetap mencermati perubahan kebijakan dan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Perkembangan di negara-negara produsen utama menjadi perhatian khusus dalam konteks ini.

Sementara itu, Reuters melaporkan penambang Indonesia menghentikan ekspor batu bara spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi yang dalam. Kebijakan ini membuat pembeli di Asia kesulitan memperoleh pasokan dari eksportir terbesar dunia.

Situasi tersebut menambah kompleksitas pasar yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan permintaan. Ketidakpastian kebijakan membuat pelaku usaha mengambil langkah lebih berhati-hati dalam merencanakan pengiriman.

Bulan lalu, Indonesia menetapkan kuota produksi bagi para penambang besar yang 40% hingga 70% lebih rendah dibandingkan level 2025. Langkah ini menjadi bagian dari rencana pemerintah untuk memangkas produksi hampir seperempat dan mendorong kenaikan harga.

Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan penerimaan negara di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama seperti China dan India. Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri.

Asosiasi industri utama di dalam negeri menentang langkah tersebut, dengan peringatan bahwa kebijakan ini berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja dan penutupan tambang. Kekhawatiran tersebut menunjukkan dampak sosial yang mungkin timbul akibat pembatasan produksi.

"Produksi masih berjalan, namun belum pada kapasitas penuh, dan pengiriman batu bara akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah," kata H. Kristiono, Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI). Pernyataan ini menegaskan bahwa ketidakpastian regulasi masih menjadi kendala utama.

Ia menambahkan bahwa tidak ada kargo spot yang ditawarkan saat ini. Hal ini semakin memperketat pasokan di pasar Asia yang sangat bergantung pada batu bara Indonesia.

Kontrak jangka panjang masih tetap dihormati, meskipun sejumlah penambang tengah mempertimbangkan pembatalan dengan alasan kondisi tak terduga. Situasi ini mencerminkan tekanan besar yang dirasakan industri akibat perubahan kebijakan.

Gangguan Pasokan dan Dampaknya terhadap Harga Global

Usulan ini menjadi gangguan pasokan terbaru yang dipicu kebijakan pemerintah Indonesia. Tujuannya adalah meningkatkan penerimaan negara di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama seperti China dan India.

Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat mendorong harga batu bara melonjak tajam. Pengalaman tersebut membuat pelaku pasar waspada terhadap potensi dampak kebijakan serupa di masa kini.

Menurut data Kpler, Indonesia menyumbang sekitar setengah dari total 960 juta ton metrik ekspor batu bara untuk pembangkit listrik global pada 2025. Angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok kunci dalam rantai pasok energi dunia.

Kini, pemerintah tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi sebesar 24% menjadi sekitar 600 juta ton. Padahal, volume ekspor saja telah melampaui 510 juta ton pada tahun sebelumnya.

Para pedagang memperkirakan pembatasan tersebut akan mendorong kenaikan harga dan memperketat pasokan. Hal ini terutama dirasakan di pasar Asia yang selama ini sangat bergantung pada batu bara Indonesia.

Seorang pedagang asal India mengatakan bahwa kargo batu bara spot Indonesia tidak ditawarkan, bahkan dengan premi US$1-US$2 per ton di atas harga saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam ajang konferensi Coaltrans India di New Delhi.

Seorang pedagang berbasis di Singapura menambahkan bahwa pengiriman spot kemungkinan tidak akan kembali berlangsung pada kuartal ini kecuali Indonesia melonggarkan pemangkasan produksi. Kedua pedagang tersebut menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi pembeli yang mengandalkan pasokan jangka pendek. Pasar pun mulai mempertimbangkan alternatif sumber pasokan dari negara lain.

Perkiraan Dampak Kebijakan terhadap Harga Batu Bara

Harga batu bara Indonesia berkalori rendah 4.200 kcal/kg naik sekitar 7% pada Januari, menurut pedagang batu bara berbasis di India, I-Energy Natural Resources. Kenaikan tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai rencana pemangkasan produksi pada pekan pertama bulan itu.

Batu bara berkalori rendah mendominasi ekspor Indonesia, sehingga perubahan kebijakan produksi sangat memengaruhi harga di pasar global. Dampaknya dirasakan paling cepat di kawasan Asia Selatan dan Asia Timur.

Batu bara berkalori rendah berpotensi naik 40% hingga 70% jika produksi dipangkas 20%. Sementara itu, harga batu bara berkalori lebih tinggi diperkirakan naik 10% hingga 20%, menurut DBX Commodities yang berbasis di London.

"Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong premi batu bara lain ikut naik. Tawaran dari Jepang, China, dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang stabil," kata seorang pedagang batu bara di perusahaan utilitas besar Asia.

Namun, pelaku industri menilai preferensi pembeli terhadap batu bara berkalori lebih tinggi dari pemasok lain dapat membatasi lonjakan harga yang tajam. Selain itu, lemahnya permintaan berkelanjutan dari China dan India juga menjadi faktor penahan kenaikan.

"Pembalikan kebijakan akibat tekanan ketenagakerjaan atau fiskal, perlambatan ekonomi China yang lebih tajam dari perkiraan, serta harga gas yang tetap rendah bisa meredam kenaikan harga batu bara yang diharapkan," kata Alexandre Claude, CEO DBX Commodities.

Direktur I-Energy Natural Resources, Vasudev Pamnani, mengatakan ia memperkirakan akan terjadi guncangan pasokan dan harga dalam jangka pendek bagi pembeli di India. Menurutnya, situasi ini akan memaksa importir mencari alternatif pasokan.

"Namun jika pemangkasan berlanjut, India memiliki opsi untuk melakukan diversifikasi impor dari Rusia, Afrika Selatan, dan Mozambik," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pasar global masih memiliki ruang penyesuaian meski menghadapi tekanan pasokan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan Indonesia tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memengaruhi keseimbangan pasar internasional. Pelaku industri kini menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan pemerintah.

Di tengah penurunan harga batu bara global dalam dua hari beruntun, gangguan pasokan dari Indonesia justru menciptakan sentimen berlawanan. Hal ini menimbulkan ketegangan antara tekanan permintaan dan risiko keterbatasan pasokan.

Pasar pun berada dalam fase yang penuh ketidakpastian, di mana harga berpotensi bergerak terbatas dalam jangka pendek. Namun, perubahan kebijakan atau pemulihan permintaan dapat dengan cepat mengubah arah tren.

Dengan berbagai faktor tersebut, harga batu bara ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan produksi Indonesia dan dinamika permintaan global. Pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan ini untuk mengantisipasi potensi perubahan harga yang signifikan.

Terkini