BMKG: Ancaman Tiga Bibit Siklon Tropis Perparah Infrastruktur Cuaca Ekstrem di Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:31:28 WIB
BMKG: Ancaman Tiga Bibit Siklon Tropis Perparah Infrastruktur Cuaca Ekstrem di Indonesia

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait dinamika atmosfer yang kian dinamis di awal Februari 2026.

 Kehadiran tiga bibit siklon tropis sekaligus, yakni 94W, 92S, dan 98P, terpantau menjadi pemicu utama terjadinya fenomena belokan dan perlambatan angin secara masif. Kondisi ini membentuk daerah konvergensi yang signifikan, sehingga meningkatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah di Indonesia.

Prakirawati BMKG, Yuyun Wulandari, dalam keterangannya pada Rabu (4 Februari 2026), menjelaskan bahwa pergerakan ketiga bibit ini saling memengaruhi pola angin regional, meskipun peluang ketiganya untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh dalam 24 jam ke depan masih terpantau rendah.

Sebaran dan Karakteristik Tiga Bibit Siklon Tropis

Pemerintah melalui BMKG terus memantau pergerakan infrastruktur awan hujan yang dibawa oleh ketiga sistem ini. Berikut adalah rincian posisi dan dampaknya:

Bibit Siklon 94W: Terdeteksi di Samudera Pasifik utara Papua dengan tekanan 1.005 hPa. Bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan angin 20-25 knot, memengaruhi atmosfer di perairan utara Papua.

Bibit Siklon 92S: Terpantau di Samudera Hindia barat daya Lampung. Sifatnya cenderung persisten dan menetap (stasioner), yang menginduksi perlambatan angin hingga ke wilayah selatan Banten.

Bibit Siklon 98P: Berada di daratan Australia dengan tekanan 1.006 hPa. Pergerakannya ke arah barat berkontribusi pada dinamika pesisir utara Australia dan berdampak pada pola cuaca di kawasan regional sekitarnya.

Daerah Konvergensi dan Potensi Hujan Sangat Lebat

Kombinasi dari ketiga bibit siklon tersebut menciptakan daerah pertemuan angin (konvergensi) yang luas. Berdasarkan analisis BMKG, konsentrasi awan hujan meningkat tajam di sepanjang Samudera Hindia barat daya Lampung, perairan selatan Banten, NTT, pesisir utara Australia, hingga Samudera Pasifik utara Papua.

Situasi ini diperparah dengan adanya sirkulasi siklonik di barat Sumatera Utara dan Bengkulu. Dampaknya, pertumbuhan awan hujan menjadi sangat intensif di wilayah-wilayah berikut:

Hujan Lebat hingga Sangat Lebat: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan.

Hujan Sedang hingga Lebat: Berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera dan wilayah lainnya di Indonesia.

Mitigasi dan Kewaspadaan Masyarakat Terhadap Cuaca Ekstrem

BMKG mengingatkan bahwa kondisi ini dapat mengganggu infrastruktur transportasi dan aktivitas publik. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang mungkin menyertai hujan petir.

"Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem," ujar Yuyun. Pastikan untuk selalu memeriksa kondisi saluran air di lingkungan sekitar dan menghindari berteduh di bawah pohon besar atau papan reklame saat terjadi hujan disertai angin kencang.

Terkini