JAKARTA - PT Hutama Karya (Persero) terus mengakselerasi pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok–Kota, bagian dari proyek strategis nasional MRT Jakarta Fase 2A.
Proyek ini dirancang tidak hanya untuk memperluas jangkauan angkutan massal, tetapi juga sebagai langkah revitalisasi konektivitas di kawasan pusat bisnis dan sejarah Jakarta.
Hingga akhir Januari 2026, pengerjaan fisik stasiun bawah tanah ini telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan menjadi solusi mobilitas modern yang terintegrasi di wilayah yang memiliki intensitas aktivitas ekonomi tinggi.
Capaian Progres dan Fokus Pengerjaan Saat Ini
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, mengungkapkan bahwa pengerjaan di lapangan berjalan sesuai jadwal.
Progres Fisik: Hingga Rabu (28/1/2026), pembangunan telah mencapai 82 persen.
Tahap Pengerjaan: Saat ini tim di lapangan fokus pada penyelesaian struktur pintu masuk (entrance), pekerjaan arsitektur interior, serta instalasi sistem mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP).
Target Penyelesaian: Proyek ditargetkan selesai sepenuhnya pada Semester I 2027.
Paket CP 203: Sinergi Teknologi Lintas Negara
Pembangunan koridor sepanjang 1,33 kilometer yang menghubungkan Stasiun Mangga Besar hingga Stasiun Kota ini dikerjakan melalui paket CP 203. Hutama Karya berkolaborasi dengan mitra internasional berpengalaman guna memastikan standar kualitas tertinggi.
Kolaborasi: Skema Joint Operation antara Sumitomo Mitsui Construction Company (SMCC) asal Jepang dan Hutama Karya (SMCC–HK JO).
Tantangan Teknis: Mengingat lokasi proyek berada di kawasan padat penduduk dan bernilai sejarah tinggi, penerapan teknologi konstruksi bawah tanah dilakukan dengan presisi tinggi untuk menjaga stabilitas bangunan di sekitarnya.
Integrasi Antarmoda dan Kenyamanan Pengguna
Stasiun Glodok–Kota didesain untuk menjadi simpul transportasi yang ramah pejalan kaki. Beberapa fitur unggulan desain stasiun meliputi:
Akses Terintegrasi: Penataan akses yang memudahkan perpindahan penumpang menuju moda transportasi lain di kawasan Jakarta Kota.
Manajemen Arus Penumpang: Desain ruang yang luas untuk meminimalkan penumpukan di peron pada jam sibuk.
Pengendalian Dampak: Selama masa konstruksi, HK berkomitmen meminimalkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi warga sekitar melalui pengaturan metode kerja yang efisien.