JAKARTA - Generasi Z lahir dan tumbuh di tengah internet yang cepat, visual, dan penuh perubahan tren. Tak heran jika banyak anak muda mulai tertarik membangun usaha sendiri sejak usia 20-an, meski tetap membutuhkan strategi agar bisnis tidak hanya viral sesaat.
Salah satu contoh menarik datang dari Tyas (25), kreator kalender unik tanpa bulan Januari untuk edisi 2025–2026. Produk ini bukan hanya alat penanda tanggal, tetapi juga menjadi medium ekspresi dengan desain meme yang relevan dengan isu terkini.
Dari obrolan santai dengan Liputan6.com mengenai proyek tahunannya pada Rabu (11 Februari 2026), tersimpan banyak pelajaran tentang cara memulai usaha ala Gen Z. Mulai dari berangkat dari passion, mengandalkan media sosial, hingga berani tampil otentik tanpa terlalu takut gagal.
Memulai dari Passion, Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Ketika ditanya bagaimana ia mengetahui produknya punya pasar, Tyas menjawab jujur bahwa ia tidak terlalu memikirkannya di awal. Ia lebih fokus membuat sesuatu yang benar-benar ia sukai dan nikmati prosesnya.
“Aku cukup idealis waktu mulai. Aku nggak terlalu fokus apakah ini akan laku atau nggak. Aku mulai dari hal yang aku suka dulu,” ujarnya.
Kalender tanpa Januari lahir dari kegemarannya pada desain dan kata-kata satire yang relate dengan keresahan sehari-hari. Di bagian awal kalender 2026, ia bahkan menulis:
“karena nggak semua perlu dimulai dari 0 kayak isi bensin. maka mari kita mulai tahun ini dari februari, tanpa januari. get ready one two three four goooooo!!!”
Konsep tersebut terasa simbolik, santai, dan sangat khas Gen Z. Unik, sedikit absurd, tetapi sarat makna dan terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari anak muda.
Dalam konteks memulai usaha ala Gen Z, passion menjadi fondasi utama yang membuat pelaku bisnis lebih tahan menghadapi tantangan. Ketika penjualan belum sesuai harapan, kecintaan terhadap ide awal membantu menjaga motivasi agar tidak mudah menyerah.
Pendekatan ini juga memberi ruang bagi eksplorasi kreatif yang lebih luas. Dari eksperimen tersebut, sering kali lahir identitas produk yang berbeda dan sulit ditiru.
Membangun Karakter Kuat Lewat Otentisitas
Gen Z dikenal menyukai sesuatu yang terasa nyata dan personal. Tyas membangun produknya dengan identitas jelas melalui desain meme, bahasa santai, serta isu-isu yang sedang ramai dibicarakan.
Ia tidak mencoba tampil formal atau terlalu korporat. Justru karakter unik itulah yang membuat produknya mudah dikenali dan terasa dekat dengan audiens.
Dalam membangun bisnis, personal branding menjadi elemen penting. Identitas visual, gaya komunikasi, hingga cara berinteraksi dengan pelanggan harus konsisten agar pesan brand mudah diingat.
Ketika brand memiliki kepribadian kuat, audiens lebih mudah merasa terhubung secara emosional. Hubungan ini membuat produk terasa lebih “hidup” dibanding sekadar barang dagangan biasa.
Otentisitas juga membuat pelaku usaha tidak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Dengan begitu, proses berkarya terasa lebih jujur dan berkelanjutan.
Kejujuran ini pula yang sering menjadi alasan mengapa audiens setia mengikuti perkembangan sebuah brand. Mereka merasa ikut tumbuh bersama perjalanan kreator di balik produk tersebut.
Strategi Media Sosial dan Kekuatan Visual
Sebagai Gen Z, Tyas menyadari bahwa media sosial merupakan alat promosi paling efektif dan terjangkau. Ia pun memanfaatkan Instagram sebagai kanal utama untuk memperkenalkan produknya.
“Aku pakai Instagram untuk promosi. Visualnya harus menarik karena Gen Z itu visual banget,” jelasnya.
Strategi ini sejalan dengan karakter generasi digital native yang akrab dengan platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Konten yang estetik, relatable, dan mudah dibagikan cenderung lebih cepat menyebar.
Tyas juga menggunakan storytelling dalam kontennya. Ia menceritakan proses desain, alasan menghapus Januari, hingga makna di balik kata-kata yang ia pilih.
Pendekatan ini meningkatkan engagement karena audiens merasa dilibatkan dalam perjalanan brand. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga mengikuti kisah di balik proses pembuatannya.
Dalam bisnis ala Gen Z, visual bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi strategi utama untuk menarik perhatian dan membangun citra brand.
Tyas mengakui bahwa kemasan dan desain harus fotogenik. Jika produk terlihat menarik di kamera, peluang untuk dibagikan ulang oleh pembeli akan semakin besar.
Hal ini berkaitan erat dengan konsep User Generated Content atau UGC. Tyas merasa senang ketika pembelinya mengunggah kalender tersebut di media sosial.
“UGC itu penting banget buat bisnis kecil karena bisa bangun trust,” katanya.
Konten dari pelanggan dianggap lebih kredibel dibanding iklan tradisional. Karena itu, desain produk perlu mendukung agar pembeli merasa bangga memamerkannya.
Semakin banyak orang membagikan pengalaman mereka, semakin besar pula peluang brand dikenal luas. Efek domino inilah yang sering dimanfaatkan oleh bisnis kecil untuk tumbuh tanpa biaya promosi besar.
Memulai Kecil, Belajar dari Proses, dan Tetap Konsisten
Usaha kalender ini bukan sumber penghasilan utama Tyas. Ia tetap mengajar di tempat les, sementara kalender menjadi proyek tahunan yang ia jalani dengan santai.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa memulai usaha tidak harus langsung besar. Bisnis bisa dimulai sebagai side project atau eksperimen kecil terlebih dahulu.
Pada 2025, Tyas berkolaborasi dengan temannya dan membuat desain yang lebih crafty serta detail. Di 2026, ia memilih desain yang lebih simple dan minimalis karena mengerjakan semuanya sendiri.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bisnis adalah proses belajar yang dinamis. Tidak perlu menunggu segalanya sempurna untuk mulai melangkah.
Dalam banyak panduan memulai usaha ala Gen Z, konsistensi jauh lebih penting dibanding kesempurnaan. Mulai dari kecil, evaluasi secara berkala, lalu berkembang secara bertahap.
Meski skalanya belum besar, Tyas tetap memperhatikan aspek manajemen. Ia menyadari pentingnya mengelola keuangan secara rapi sejak awal.
Menurutnya, Gen Z yang ingin serius berbisnis sebaiknya memisahkan rekening pribadi dan bisnis. Langkah sederhana ini membantu memantau arus kas dan menghindari kebingungan finansial.
Ia juga menyinggung pentingnya mengurus legalitas seperti Nomor Induk Berusaha jika ingin berkembang lebih jauh. Meski terasa membosankan, hal administratif ini justru membuat bisnis lebih profesional.
Langkah kecil tersebut membantu pelaku usaha mempersiapkan diri untuk peluang yang lebih besar. Dengan struktur yang rapi, bisnis akan lebih siap ketika permintaan meningkat.
Tantangan terbesar bagi Tyas adalah konsistensi, terutama karena usaha ini bukan pekerjaan utamanya. Namun ia percaya bahwa bisnis adalah maraton, bukan sprint.
Jika ada desain yang kurang diminati, ia menjadikannya bahan evaluasi. Ia tidak menganggapnya sebagai alasan untuk berhenti berkarya.
Sikap ini penting bagi Gen Z yang sering berharap hasil cepat. Padahal, pertumbuhan bisnis memerlukan waktu, eksperimen, dan ketahanan mental.
Dengan mindset belajar, setiap kegagalan dapat diubah menjadi pelajaran berharga. Dari situ, pelaku usaha bisa menemukan formula yang paling sesuai dengan audiensnya.
Meski kalender ini menghasilkan uang yang lumayan, Tyas belum menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama. Ia masih ingin menjaga esensinya sebagai proyek yang fun dan personal.
“Buatku, usaha itu bukan cuma soal uang. Tapi soal ruang berekspresi yang ternyata bisa menghasilkan juga,” tutupnya.
Di sinilah pelajaran terbesarnya terlihat jelas. Bisnis yang sehat bukan hanya tentang profit, tetapi juga tentang makna dan kepuasan pribadi.
Ketika usaha dibangun dari passion, otentisitas, dan konsistensi, peluang bertahan akan jauh lebih besar. Pendekatan ini juga membuat perjalanan bisnis terasa lebih menyenangkan dan bermakna.
Generasi Z memiliki modal besar berupa kreativitas, keberanian bereksperimen, dan akses luas ke teknologi. Jika dimanfaatkan dengan strategi yang tepat, potensi ini dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Kisah Tyas menunjukkan bahwa memulai dari hal kecil tidak menghalangi lahirnya ide besar. Justru dari langkah sederhana itulah fondasi bisnis yang kuat dapat dibangun.
Dengan mengandalkan passion, karakter unik, visual menarik, serta konsistensi, Gen Z dapat menciptakan usaha yang relevan dengan zamannya. Lebih dari sekadar tren, bisnis semacam ini mampu membangun koneksi jangka panjang dengan audiens.