Penjualan Eceran Meningkat Signifikan Menjelang Perayaan Natal dan Tahun Baru 2026

Senin, 12 Januari 2026 | 11:22:31 WIB
Penjualan Eceran Meningkat Signifikan Menjelang Perayaan Natal dan Tahun Baru 2026

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran tumbuh sebesar 1,5% secara bulanan (month to month/MtM) pada November 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,6% MtM, menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, hasil survei penjualan eceran (SPE) menunjukkan mayoritas kelompok komoditas mengalami kenaikan. Peralatan Informasi dan Komunikasi naik 5,5% MtM, Suku Cadang dan Aksesori 4,2% MtM, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 2,8% MtM, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,2% MtM.

"Seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang periode hari besar keagamaan nasional Natal dan Tahun Baru," ujar Denny. Hal ini mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang mulai aktif berbelanja lebih awal.

Pertumbuhan Penjualan Eceran Secara Tahunan (YoY)

Secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran mengalami pertumbuhan sebesar 6,3% pada November 2025. Angka ini meningkat dibandingkan 4,3% YoY pada Oktober 2025, menandakan akselerasi permintaan menjelang akhir tahun.

Berdasarkan kelompoknya, kenaikan penjualan terbesar terjadi pada Suku Cadang dan Aksesori 17,7% YoY. Selain itu, Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh 8,5% YoY, Barang Budaya dan Rekreasi 8,1% YoY, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 0,8% YoY.

Denny menekankan, pertumbuhan tahunan ini merupakan hasil dari kombinasi permintaan konsumen yang meningkat dan persiapan masyarakat menghadapi Nataru. Fenomena ini menunjukkan sektor ritel tetap menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi domestik.

Proyeksi Penjualan Eceran Desember 2025 dan Indeks Penjualan Riil

Bank Indonesia memproyeksikan kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 meningkat meski sedikit melambat. Indeks Penjualan Riil (IPR) akhir 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% YoY, lebih rendah dibandingkan realisasi November 6,3% YoY.

"Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor," kata Denny. Peningkatan ini menunjukkan tren belanja masyarakat tetap kuat di akhir tahun meski ada variasi pertumbuhan antar kelompok.

Secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan meningkat sebesar 4% pada Desember 2025. Kenaikan ini terutama terjadi pada Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Makanan, Minuman dan Tembakau, seiring peningkatan permintaan menjelang Nataru.

Tekanan Inflasi dan Ekspektasi Harga di Tahun 2026

Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat pada tiga bulan mendatang, terutama Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 sebesar 168,6, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya 163,2.

Sebaliknya, pada enam bulan mendatang atau Mei 2026, tekanan inflasi diproyeksikan menurun. IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5, lebih rendah dari periode sebelumnya 161,7, menunjukkan potensi stabilisasi harga di tengah dinamika permintaan konsumen.

Denny menekankan, pemantauan penjualan eceran dan ekspektasi harga menjadi kunci bagi BI dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kinerja sektor ritel yang solid menjelang Nataru sekaligus mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Kelompok Komoditas Utama Penggerak Penjualan Eceran

Suku Cadang dan Aksesori menjadi salah satu kelompok komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan penjualan. Kategori ini naik signifikan 17,7% YoY, menunjukkan peningkatan aktivitas pemeliharaan dan pembelian kendaraan menjelang akhir tahun.

Selain itu, Makanan, Minuman, dan Tembakau tetap menjadi penopang utama pertumbuhan sektor ritel. Kenaikan 8,5% YoY menunjukkan permintaan konsumen yang kuat untuk kebutuhan pokok dan konsumsi sehari-hari, terutama di masa perayaan Nataru.

Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi meningkat 8,1% YoY, menandakan masyarakat mulai berinvestasi pada hiburan dan aktivitas rekreasi. Hal ini sekaligus menguatkan peran sektor non-pokok dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Bahan Bakar Kendaraan Bermotor juga mencatat kenaikan 0,8% YoY, meskipun relatif kecil. Lonjakan ini terkait dengan mobilitas masyarakat yang meningkat menjelang periode liburan akhir tahun.

Terkini